Senin, 04 April 2011

Struktur Insan dalam Perspektif Imam Al-Ghazali

THURSDAY, JUNE 30, 2005

‘Jism’, ‘Aradh’, ‘Jauhar’ dan ‘Ruh Amr’ : Struktur Insan dalam Perspektif Imam Al-Ghazali


Muhammad Sigit Pramudya dan Kuswandani Yahdin,
Jurnal Suluk Ruh Al-Quds, Vol. I, No. 1, (2001) Paramartha - PICTS 

 

SEBAGAI seorang ulama yang berjasa membuat jembatan antara aspek dzahir dan batin, syari’at dan tashawwuf (ihsan) bagi umat Islam umumnya, Imam Al-Ghazali ra sangat memperhatikan pengetahuan tentang struktur insan, yaitu pengetahuan manusia terhadap dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan pengetahuan yang benar tentang struktur insan merupakan platform (landasan, sistem operasi) bagi tumbuhnya keberagamaan yang utuh sehingga seorang muslim dapat memulai keislamannya dengan arahan yang jelas dan nyata di mana dia akan adil dalam mendayagunakan segala potensi pencarian kebenaran yang Allah hadirkan dalam dirinya baik yang melekat pada aspek jasadiahnya seperti pikir dan nalar (logika), maupun yang melekat pada aspek bathiniahnya seperti petunjuk Allah, nur ilmu (ilmu ladunni) dan ilmu tasawwur.

Karena itu bahasan mengenai struktur insan sesungguhnya amat bertaburan dalam khazanah Imam Al-Ghazali, meski sering beliau samarkan dan tegaskan bahwawalayah beliau tidak dalam membahas masalah ini sampai ke detil dan inti permasalahan. Atau seperti beliau katakan sendiri, “Lagi pula tujuan kami hanya membicarakan sifat-sifatnya dan hal-ihwalnya, bukan memperbincangkan hakikat dzatnya, sebab ilmu mu’amalah hanya mengenal sifat-sifatnya dan hal-ihwalnya, bukan hakikat.” Namun demikian, kita tetap bisa mendapatkan suatu gambaran yang utuh tentang struktur insan. Hanya saja karena beliau banyak mengkhususkan diri dalam masalah mu’amalah dan menjembatani hubungan antara aspek dzahir dan bathin dari Islam, maka bahasa yang beliau gunakan juga berupa bahasa mu’amalah dan ‘jembatan’.


Struktur Insan
Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, inter relasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya dimana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik inderawi tapi juga alam-alam atas (alamul a’laa), termasuk alam malaikat. Semua ini adalah kalam ilahi yang bertutur tentang Dia SWT yang berada di balik semuanya.
Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya” (HR. Bukhari dan Ahmad)
Untuk menjelaskan struktur insan yang kompleks ini maka Imam Al-Ghazali ra menggambarkan bahwa manusia itu adalah hewan yang mampu berpikir (hayyawan nathiq)., maksudnya berjasmani seperti hewan, tapi juga mampu mencerap pengetahuan tentang Allah SWT sebagaimana malaikat. Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah adanya tambahan unsur jiwa (an-nafs) yang membuat manusia mampu berpikir dan mewujudkan apa yang dipikirkannya (nathiq), baik dalam bentuk perkataan hingga perbuatan, sehingga bila saja binatang diberi jiwa (an-nafs) sebagaimana yang diberikan kepada manusia, tentu ia akan sanggup berpikir dan akhirnya mukallafah.
Struktur makhluq yang seperti ini oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek:Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism).
Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan insan dari suatu saripati (berasal) dari tanah (thiin). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).Kemudian air mani itu Kami ciptakan jadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami ciptakan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami ciptakan menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Memberkahi Allah, Sebaik-baiknya Maha Pencipta. (Al-Mu’minun [23]: 12-14)”
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menciptakan seorang basyar dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam (shalshal) yang diberi bentuk.” (Al-Hijr [15]: 28)
Jika diperhatikan lebih jauh mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, maka akan ditemui persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos). Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan, tentu maka akan menemukan persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh. Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut.Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, di mana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85 (pembahasan tentang Ruh Amr ini akan diuraikan di bagianHubungan Jiwa dengan Ruh).
Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruhitu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)
Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).
Kemudian manusia juga memiliki jiwa (an-nafs) yang merupakan jauhar, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat manapun dan juga tidak bertempat pada apapun. Jiwa adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh dimana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan jiwa tidak akan hilang dan tetap eksis, sebagaimana firman Allah di Ali ‘Imran [3]: 169.
Janganlah engkau sekali-kali mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbmereka dengan mendapatkan rizki. (Ali ‘Imran [3]: 169)
Jiwa (an-nafs)merupakan esensi yang sempurna dan tunggal yang tidak muncul selain dengan cara mengingat, menghapal, berpikir, membedakan dan mempertimbangkan sehingga dikatakan bahwa ia menerima seluruh ilmu. Ia mengetahui masalah-masalah yang rasional maupun yang ghaib. Dialah yang sanggup memahami, berpikir dan merespon segala yang ada; bukan tubuh maupun otak yang sebenarnya hanyalah sebentuk materi. Bahkan Imam Al-Ghazali ra mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya adalah suatu kondisi yang ada pada jiwa. Adanya ilmu menggambarkan jiwa yang berpikir tenang (an-nafs an-nathiqah al-muthmainnah) tentang hakikat segala sesuatu, artinya adanya pengetahuan tentang al-haq itu merepresentasikan tentang jiwa. Ini dikarenakan jiwa di dalam tubuh akan berusaha mencari kesempurnaan, agar ia sanggup mengikuti derajat malaikat yang dekat dengan Allah (muqarrabun), di mana Allah adalah sumber segala pengetahuan juga merupakan obyek ilmu yang paling utama, paling tinggi, dan paling mulia.
Kesemuanya ini adalah struktur dasar yang memiliki alamnya masing-masing, tetapi kemudian dalam totalitas diri manusia, semua ini akan saling berinteraksi dan membentuk relasi-relasi. Relasi-relasi antar alam ini kemudian bisa mewujud dan menciptakan alam-alam baru yang tak kalah eksis. Bahkan kehadiran mereka bisa membiaskan eksistensi struktur dasar jiwa-ruh-jasad sehingga manusia menjadi makhluk yang amat kompleks. Pada titik inilah usaha mengenali diri sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Rasulullah Muhammad Saw “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu”, menjadi sedemikian sulit dan butuh jihad. Semakin kompleks kehidupannya, maka semakin besar jihad yang dibutuhkan.

Jiwa merupakan suatu jauhar
Dalam menjelaskan tentang struktur insan, Imam Al-Ghazali ra membahasnya dalam hubungan yang kuat antar unsur-unsur (aspek) dalam diri manusia tersebut, khususnya antara jiwa (nafs) dengan tubuh (jism) dengan tujuan agar terlihat bahwa hakikat (jauhar) seorang manusia adalah jiwanya (nafs). Sementara jiwa (nafs) sendiri bukan bagian dari alam ciptaan (khalq), sehingga eksistensinya tak bisa disentuh sebatas menggunakan indera lahiriah.
Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi. Dalam hal ini Imam Al-Ghazali ra memandang segala bentuk-bentuk material itu sendiri pada prinsipnya ada demi menunjukkan eksistensi dari jauhar tersebut. Sebagaimana terjadi pada diri manusia di mana jasad menunjukkan keberadaan sang jiwa (an-nafs).
Imam Al-Ghazali ra menjelaskan bahwa jiwalah yang menggerakkan tubuh melalui energi yang tidak tampak dan sangat selaras. Artinya jiwa merupakan entitas hakiki yang berada dibalik seluruh organ tubuh, panca indera dan aktivitas otak sehingga jasmani itu ibarat pakaian yang bergerak karena kehendak sang jiwa. Ketika jiwa menggunakan mata, maka tampaklah jiwa sebagai penglihatan. Ketika jiwa menggunakan telinga, maka ia dikenal sebagai pendengaran. Ketika jiwa menggunakan hidung, maka ia pun muncul sebagai penciuman, dan demikian seterusnya. Meskipun demikian, pada dasarnya jiwa adalah suatu jauhar yang tunggal, di mana ia tidak terbagi-bagi sebagai mana tubuh terbagi-bagi dalam anggota tubuh dan panca indera. Karena bila ia terbagi-bagi seperti itu, berarti ia mengikuti hukum-hukum material, sementara ia bukan materi.
Karena itu Imam Al-Ghazali ra menekankan pembahasan strutur insan dalam relasi jauhar, aradh dan jism. Jiwa sebagai jauhar dan jasad sebagai jism. Jiwa yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi jiwa untuk mewujudkan suatu kehendak di alam khalq (alam ciptaan) sehingga muncullah istilah karya dan cipta. Tanpa jiwa, jasad hanyalah sebentuk materi yang tak bisa berbuat apa-apa dan tak mengetahui apa-apa. Tapi ketika jiwa dilekatkan pada jasad, maka bermunculanlah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan dan pikiran sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan aradh, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.
Analogi yang cukup mendekati adalah seperti ditunjukkan pada gambar 1. Pada gambar tersebut digambarkan adanya sumber cahaya yang memancarkan cahaya tak berwarna (putih) ke segala penjuru. Berdasarkan hukum fisika telah diketahui bahwa ketika cahaya putih — yang sebenarnya merupakan perpaduan dari segala warna cahaya – melewati benda tembus pandang berwarna seperti lensa, maka akan terjadi penyaringan (filter) cahaya. Bila lensa tersebut berwarna merah, maka lensa tersebut hanya akan melewatkan cahaya merah dan meredam cahaya warna lainnya. Demikian juga ketika melewati lensa kuning dan hijau, sehingga lahirlah cahaya yang berwarna-warni. Dalam keseharian, kita mungkin dapat melihat fenomena ini di traffic light (lampu lalu lintas).
skema Al-Ghazali 1
Gambar 1. Sumber cahaya, lensa kaca berwarna dan cahaya merah-kuning-hijau yang dihasilkannya.

Inilah perumpamaan jiwa jauhar (an-nafs), aradh dan jasmani (jism). Sumber cahaya pada gambar 1 adalah perumpamaan dari jiwa jauhar, cahaya berwarna adalah perumpamaan dari berbagai aradh dan lensa adalah perumpamaan dari anggota tubuh (jasmani). Ketika jiwa (an-nafs) dipertemukan dengan jasmani-nya maka muncullaharadh-aradh-nya, seperti munculnya cahaya merah, kuning dan hijau dari cahaya tak berwarna (putih) (lihat Gambar 1). Dengan analogi tersebut semoga terpahami bahwa penglihatan, pendengaran, penciuman, kemampuan berkata-kata, kemampuan berfikir, bernalar dan berkhayal serta kekuatan-kekuatan lainnya baik yang terlihat atau tidak, sesungguhnya hanyalah ibarat spektrum warna cahaya yang sumbernya adalah jiwa (an-nafs). Adanya kekuatan-kekuatan tersebut pada akhirnya semestinya menunjukkan tentang adanya jiwa (an-nafs) sebagai jati diri manusia.
Pertemuan antara jiwa dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang memakan waktu dimana jiwa yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad tersebut, jiwa akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Karena itu, manusia dapat menyaksikan dan merasakan bahwa seluruh hidupnya dipenuhi dengan aktivitas tersebut dimana kemudian kita istilahkan dengan ‘belajar’. Betapa seorang bayi belajar menguasai dan mengkoordinasikan perangkat-perangkat tubuhnya sehingga secara bertahap muncullah kekuatan penglihatan, pendengaran, tertawa dan gerak dalam dirinya. Betapa pula ketika manusia menyadari tentang adanya kekuatan ruhaninya, maka ia pun belajar untuk menghidupkan dan menggunakannya. Ini semua adalah karakteristik alamiah, yang bila berjalan secara normal maka jiwa akan berjalan dengan aman yaitu berusaha mengikuti derajat malaikat dan berusaha semakin dekat dengan Allah SWT. Semua ini terjadi adalah dengan kekuasaan Allah dan segala sistematisasi-Nya, tidak ada Tuhan selain Dia.
Kekuatan jiwa (aradh) itu dibedakan menjadi dua, yaitu motorik (penggerak) dan kognitif. Sementara kognitif sendiri terbagi menjadi dua, yaitu luar dan dalam. Kognitif luar adalah seperti mendengar, melihat, membaui, meraba dan sebagainya. Adapun kognitif dalam terdiri dari tiga macam:
1. Imajinasi (khayaliyyah), yang bertugas merekam segala bentuk yang pernah ditangkap oleh indera.
2. Fantasi (wahmiyyah), yang mampu memahami berbagai makna (pengertian). Kekuatan ini akan merekam pengertian (makna) dari segala bentuk yang direkam oleh khayaliyyah.
3. Pikiran (fikriyyah), yang berfungsi menyusun beberapa bentuk, antara yang satu dengan yang lainnya.
Di tempat lain, Imam Al-Ghazali ra menyebutkan aspek kognitif ini sebagai bagian dari tentara qalb, yang disebut dengan divisi al-ilmu wal idrak yaitu divisi yang bertugas untuk meraih pengetahuan dan pemahaman tentang segala sesuatu. Beliau kemudian menggambarkan dengan lebih rinci sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini.
Dari gambar tersebut terlihat bahwa kognitif luar itu melekat pada panca indera dan kognitif dalam itu melekat pada dimagh (otak). Yang menarik ternyata hampir semua kekuatan (aradh) tersebut juga dimiliki oleh binatang karena kambingpun bisa langsung mengerti bahwa anjing hutan adalah musuhnya, maka ia segera melarikan diri. Artinya hewanpun adalah makhluk yang berfikir. Karena itu jiwa (an-nafs) mestilah sesuatu yang derajatnya di atas kekuatan-kekuatan (aradh) tersebut, karena jiwa (an-nafs) merupakan pembeda antara manusia dan binatang yang perbandingannya sebagaimana dilukiskan pada gambar 1 di mana cahaya dengan sumbernya tetaplah sesuatu yang derajatnya berbeda.
skema Al-Ghazali 2
Gambar 2. Tentara Qalb yang tergabung dengan divisi al-ilm wal idrak.

Demikianlah, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pembeda manusia dengan binatang adalah pada zat jiwa itu sendiri, yaitu jiwa sebagai jauhar yang memiliki kemampuan untuk merespon atau memahami pengetahuan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa jiwa jauhar ini bukanlah kekuatan-kekuatan tersebut, melainkan merupakan esensi yang sempurna dan tunggal yang tidak muncul selain dengan cara mengingat, menghapal, berpikir, membedakan dan mempertimbangkan sehingga dikatakan bahwa dialah yang menerima seluruh ilmu. Ia tidak bosan menerima gambaran-gambaran yang lepas dari materi. Semua bagian diri manusia berkhidmat kepada jauhar ini dan melaksanakan perintahnya.
Dalam hubungannya dengan jasad, jiwa jauhar ini (an-nafs) dikatakan memiliki dua jenis kekuatan, yaitu kekuatan yang bersifat amaliah (praktis) dan yang bersifat ilmiah. Adapun yang bersifat amaliah adalah kekuatan yang menjadi pusat penggerak manusia sehingga melahirkan karya dan cipta dalam wujud teknologi-teknologi manusia. Sementara yang bersifat ilmiah adalah yang mampu memahami materi ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak ada bentuk dan bendanya, di mana ilmu pengetahuan tersebut merupakan masalah-masalah yang bersifat universal, abstrak dan hanya dapat dipahami oleh akal.
Dalam kaitannya dengan aspek amaliah dan ilmiah inilah maka jiwa jauhar ini disebut juga dengan jiwa berpikir (nafs nathiqah) karena makna nathiq di sini tidak hanya meliputi kekuatan berpikir (ilmiah), tapi sampai pada kekuatan untuk mewujudkannya dalam bentuk gerak dan perbuatan (amaliah). Al-Qur’an menamai nafs nathiqahsebagai suatu paduan antara jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah) dengan ruh Amri. Karena itu Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa nafs nathiqah adalah jauhar yang hidup, aktif dan rasional.

Tingkatan Jiwa
Jiwa itu sesungguhnya berlapis-lapis dan bertingkat, sehingga istilah jiwa sebenarnya digunakan untuk mewakili/menggambarkan banyak aspek. Bila istilah jiwa ditujukan pada jiwa yang menjadi jauhar manusia (an-nafs), maka binatang dapat dikatakan tak memiliki jiwa tersebut. Tapi bila derajat pemahaman tentang jiwa ini diturunkan, maka binatang pun sebenarnya memiliki jiwa. Bahkan tenaga gas dan segala sesuatu yang dapat berkembang (seperti tumbuhan) juga dikatakan memiliki jiwa. Hanya saja derajat jiwa yang mereka miliki tidak cukup untuk membuat mereka mukallafah. Karena itu dalam tulisan ini, ketika jiwa disebut dalam bentuk isim ma’rifah an-nafs, maka itu menunjuk kepada jiwa jauhar. Sedangkan ketika disebut dengan nafs saja, maka itu menunjukkan kepada jiwa dalam seluruh derajatnya (jiwa secara umum).
Untuk memahami masalah ini lebih jauh, harus dipahami bahwa jiwa itu tumbuh. Ia berproses dari suatu kekuatan (kemampuan, potensi) menuju bentuk perbuatan. Jiwa hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) melekat pada kesempurnaan suatu tubuh (jism) secara alamiah dimana pada derajat tersebut pemilik jiwa memiliki kemampuan untuk dapat merasa dan bergerak sehingga dikatakan bahwa jiwa hewani adalah tingkatan pertama dari munculnya suatu perbuatan. Karena itulah binatang dan manusia sama-sama memiliki jiwa jenis ini.
Penggerak indera pada binatang adalah melalui daya fantasi, yang fungsinya sama dengan daya intelektual yang ada pada manusia. Seekor binatang akan berperilaku sesuai dengan perilaku yang dikendalikan daya fantasinya ketika melihat sesuatu yang berbahaya. Kalau melihat sesuatu yang berbahaya, ia akan segera menghindar, dan tidak terlalu salah bila dikatakan bahwa ia punya daya rekam yang mampu merekam citra.
Jiwa manusia sendiri memang memiliki dua sisi. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat dalam berbagai keutamaan dan ketekunan beribadat kepada Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam khalq). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).
Berbagai alam tersebut memiliki tuntutannya masing-masing, yang sering saling bertolak belakang. Inilah yang membuat jiwa manusia cenderung bingung dalam menjalani kehidupannya di dunia. Masing-masing ingin dipenuhi secara adil sesuai dengan hukum keadilan Tuhan. Karena itu agar manusia pada akhirnya tetap bisa cenderung pada sisi yang tinggi, maka Allah memperkuatnya dengan akal agar dapat menerima apa yang disampaikan dari para malaikat dan Rasul-Nya, di samping juga sanggup memahami apa yang dikehendaki Tuhannya. Inilah kebijakan Tuhan (hikmah Ilahiyyah) yang menjadikan manusia itu istimewa.
Dua sisi tersebut kemudian membuat jiwa (an-nafs) memiliki dua kekuatan dasar, yaitu amaliah dan ilmiah. Kekuatan amaliah terkait dengan sisi yang menuju alam bawah yang sebagian besar bersifat inderawi, sedang kekuatan ilmiah terkait dengan sisi yang menuju alam atas karena dari sisi inilah turunnya pengetahuan yang tak terbatas. Terkait dengan hal tersebut, jiwa hewani sesungguhnya adalah representasi jiwa pada sisi yang menghadap alam bawah di mana dengan jiwa hewani tersebut manusia dan binatang dapat menghasilkan dan mensistemkan suatu gerakan atau perbuatan. Hanya saja pada binatang, mereka bergerak dan berbuat tanpa pengetahuan tentang sisi bagian atas sehingga binatang tidak mengerti tentang apa yang menjadi dasar gerakan (perbuatan) mereka. Perbuatan dan karya cipta mereka sepenuhnya dilakukan atas dasar wahyu yang diterima dari Allah swt.
“Dan Rabbmu mewahyukan kepada seekor lebah: Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon, dan di tempat-tempat yang dibikin (manusia).” (An-Nahl [16]: 68)
Sementara manusia bergerak dan berbuat atas dasar pengetahuan yang didapatnya. Bila sisi jiwa yang menghadap alam atas mampu menerima pengetahuan-Nya, maka dia akan berbuat dan berkarya atas dasar ilmu-ilmu tinggi itu. Bila tidak, maka manusia juga akan tetap berbuat, tapi atas dasar ilmu-ilmu rendah (pengetahuan duniawi). Karena itu Al-Qur’an sering menyindir mereka yang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas sebagai tak ubahnya dengan binatang, bahkan lebih rendah dari itu. Mereka tidak mengenal malaikat dan Tuhan penciptanya, tapi sangat mengenal dunianya.
“Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka (mampu) mendengar atau menggunakan ‘aqlnya?. Mereka itu tiada lain bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesatlah jalan mereka.” (QS. Al-Furqan:44).
Manusia dikatakan lebih sesat dari binatang karena meski binatang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas namun binatang berada dalam ketaatan yang mutlak kepada Sang Penciptanya. Mereka mendengar, melihat dan mengetahui kehendak Allah SWT atas diri mereka. Mereka tak akan pernah bergerak kecuali atas dasar ilmu Allah SWT yang sudah tercatat dalam suatu kitab, di mana Dia tak akan keliru atau lupa. Sedangkan manusia yang tak berpengetahuan tentang alam-alam atas, maka mereka justru terputus dari ketaatan kepada kehendak Allah SWT karena dengan apa mereka memahami kehendak Allah SWT atas diri mereka? Kalaupun mereka membangun suatu ‘ketaatan’, maka itu adalah atas dasar persangkaan yang dibangun di bawah kendali hawa nafsu dan syahwat.

Hubungan jiwa dengan kematian
Kematian itu sesungguhnya adalah terpisahnya jauhar jiwa dari jasmani danaradhnya. Imam Al-Ghazali ra menjelaskan bahwa sakaratul maut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke seluruh bagian jiwa sehingga tak ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Inti jiwa di sini adalah jauhar jiwa, dan bagian jiwa adalah aradh dan jasmani, sehingga dapat dibayangkan betapa sakitnya sakratul maut karena jiwa (an-nafs) harus tercerabut bukan hanya dari jasmaninya, tetapi juga dari aradhnya.
Manusia pasti akan merasakan derita dan rasa sakit kematian dan sesungguhnya sendi-sendinya akan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, seraya berkata, ‘Sejahteralah atasmu. Sekarang kita saling berpisah hingga datang hari kiamat.’
Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah berbicara tentang angan-angan yang diriwayatkan oleh Ali ra.,
“Dua hal yang paling kutakuti dari kau semua, melebihi segala sesuatu yang lain: menuruti hawa nafsu dan berpanjang angan-angan. Sebab menuruti hawa nafsu akan menghalangi orang dari kebenaran, sedangkan berpanjang angan-angan berarti mencintai dunia.”
Kecintaan terhadap dunia itulah yang akan menjadi pangkal rasa sakit ketika sakaratul maut tiba. Tapi tak juga dapat dipungkiri bahwa angan-angan adalah salah satu aradh. Ia merupakan bagian dari divisi al-ilm wal idrak yang membuat manusia dapat menjalani dan menikmati kehidupan di dunia ini. Al-Hasan berkata, “Kelalaian dan angan-angan adalah dua nikmat besar yang dianugerahkan kepada manusia. Sekiranya tidak ada keduanya, niscaya orang-orang Muslim tidak akan berjalan di jalan-jalan.” Mutharrif bin ‘Abdullah juga berkata, “Seandainya aku mengetahui saat kematianku, niscaya aku takut akan hilang akalku sendiri. Tetapi Allah SWT telah merahmati hamba-hamba-Nya dengan memberi mereka kelalaian akan maut. Seandainya bukan karena kelalaian itu, tentu mereka tidak akan menikmati kesenangan dalam hidup, dan tidak ada pasar yang dibangun di tengah-tengah mereka.”
Dikatakan bahwa suatu ketika Nabi Isa as duduk di dekat seorang tua yang sedang menggali tanah dengan cangkul. Isa berdo’a, “Wahai Tuhan, cabutlah angan-angannya,” dan orang itu pun meletakkan cangkulnya dan membaringkan diri. Setelah berlalu satu jam, Isa as berkata, “Wahai Tuhan, kembalikanlah angan-angannya.” Orang itupun lalu bangkit kembali dan meneruskan pekerjaannya. Ketika Isa as bertanya kepadanya tentang hal yang terjadi, dia berkata, “Ketika saya sedang bekerja, jiwa saya berkata, ‘Berapa lama lagi engkau akan bekerja, sedangkan engkau sekarang sudah tua?’ Oleh karena itu saya lalu meletakkan cangkul saya dan berbaring. Kemudian jiwa saya berkata kepada saya, ‘Demi Tuhan, engkau harus bekerja untuk sisa umurmu.’ Saya pun bangkit kembali dan mengambil cangkul saya lagi.”
Kematian itu memisahkan jiwa dengan angan-angannya. Semakin panjang angan-angannya, semakin berat sakaratul mautnya. Semakin pendek angan-angannya, semakin ringan sakaratul mautnya. Tapi angan-angan tidak mungkin dihilangkan sama sekali. Karena itu Rasulullah SAW dalam hal angan-angan ini berdoa sebagai berikut, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dunia yang menghapus kebaikan di akhirat. Aku berlindung kepada-Mu dari hidup yang menghalangi kematian yang baik, dan aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan yang bertentangan dengan amal shaleh.” At-Tsauri berkata, “Zuhud terhadap dunia adalah memendekkan angan-angan, bukan makan makanan kasar atau memakai jubah wol.” Suatu ketika Al-Mufadhdhal bin Fadhaalah berdoa kepada Tuhannya agar menghilangkan angan-angannya, lalu diapun kehilangan selera makan dan minumnya. Kemudian dia berdoa lagi agar Tuhan mengembalikan kepadanya angan-angannya. Dan seketika itu juga dia pun kembali kepada makanan dan minumannya.
Karena alasan ini dikatakan bahwa maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting karena rasa sakit yang diakibatkan oleh tusukan pedang terjadi melalui asosiasi bagian tubuh yang tertusuk dengan jiwa, maka betapa sakitnya jika luka itu langsung dirasakan oleh jiwa itu sendiri! Orang yang ditusuk bisa berteriak kesakitan karena masih ada tenaga dalam hati dan lidahnya. Sedangkan suara dan jeritan orang yang sekarat terputus karena rasa sakit itu telah memuncak sehingga tenaga menjadi hilang, semua anggota tubuh melemah dan sama sekali tak ada lagi daya untuk berteriak meminta pertolongan. Rasa sakit itu telah melumpuhkan akalnya, membungkam lidahnya dan melemahkan semua raganya.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika sekelompok kaum Bani Israil berjalan melewati pekuburan, dan salah seorang di antara mereka berkata kepada yang lain, “Bagaimana jika kalian berdoa kepada Allah SWT agar dia menghidupkan satu mayat dari pekuburan ini dan kalian bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya?” Mereka pun berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba mereka berhadapan dengan seorang laki-laki dengan tanda-tanda sujud di antara kedua matanya yang muncul dari salah satu kuburuan. “Wahai manusia!” katanya, “Apa yang kalian kehendaki dariku? Lima puluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa pedihnya belum juga hilang dari hatiku!”

Hubungan Jiwa dengan Akal
Meski jiwa adalah jauhar, tetapi ketika dikaitkan dengan keberadaan akal (‘aql), maka ia tak lebih dari sekedar mediator karena jiwa (an-nafs) sesungguhnya bukanlah pemilik perbuatan. Meski jiwa (an-nafs) menguasai kekuatan untuk mewujudkan suatu perbuatan, tapi prakarsa terhadap suatu perbuatan tidak datang dari jiwa. Karena itu ketika Allah SWT menciptakan jiwa dengan sistem dan tipe seperti ini, maka kebijakan Tuhan (hikmah ilahiyyah) menjadikan manusia itu lebih istimewa yaitu dengan memberi bantuan, memperkokoh dan memberi berbagai sarana yang memungkinkannya untuk meraih pengetahuan di sisi alam atas dan mewujudkannya di alam bawah. Untuk meraih sisi yang tinggi, maka jiwa diperkuat dengan akal (‘aql), agar dapat menerima apa yang disampaikan dari para malaikat dan Rasul-Nya, disamping juga agar dapat memahami apa yang dikehendaki Tuhannya.
Dalam hubungannya dengan akal (‘aql), Imam Al-Ghazali ra menjelaskan bahwa jiwa ibarat seorang ksatria yang dikirim ke daerah yang rawan musuh. Sementara yang mengirimkannya adalah sang Raja yang perintah-Nya harus ditaati dan larangan-Nya harus dijauhi. Ia diperintah untuk memblokade daerah yang rawan tersebut, menyalurkan bahan makanan kepada para pasukan dan memerangi musuh. Untuk itu, sang Raja telah menetapkan tiga perkara, yaitu: pertama, pada tempat yang rawan musuh tersebut telah disempurnakan gedung, rumah, pagar, dinding, benteng, sungai, pepohonan, buah dan sarana-sarana lain. Kedua, sang Raja telah mengirimkan seorang hamba dan para pembantu bagi prajurit tersebut di mana hamba dan para pembantu itu dijadikan selalu berinteraksi kepadanya. Mereka sepenuhnya dalam kendali dan perintah si ksatria; baik diperintah dengan benar maupun tidak, mereka tidak akan membantah dan membangkang. Namun Raja menginginkan agar mereka diperlakukan dengan baik, dan mengharapkan sang ksatria tidak sekali-kali tertipu oleh segala kewenangan yang diberikan kepadanya. Ketiga, sang Raja juga mengirimkan seorang perdana menteri yang bijaksana sebagai penasehat bagi sang Ksatria. Perdana menteri ini mengetahui dan melihat apa yang ada di seluruh alam ini, juga mengetahui perilaku yang baik, jalan yang benar serta akibat berbagai masalah. Kehadiran perdana menteri ini merupakan penghormatan sang Raja bagi Ksatria di mana Raja menginginkan agar sang Ksatria melaksanakan segala sesuatu atas sepengetahuannya.
Ksatria dalam kisah di atas adalah perumpamaan dari jiwa (an-nafs). Sementara tubuh ibarat daerah rawan musuh, sedangkan insting, kekuatan jiwa (aradh) dan beberapa unsur lain yang ada dalam tubuh adalah ibarat berbagai macam bekal dan sarana-sarana lain yang diberikan kepada hamba. Adapun kebutuhan makan dan keperluan-keperluan hidup yang lain diibaratkan sebagai faktor yang harus terjadi di daerah tersebut dan berbagai bencana yang mungkin menimpanya. Sedangkan akal (‘aql) digambarkan sebagai seorang perdana menteri, dan Dan sang Raja adalah ibarat dari Allah SWT.
Akal ini berasal dari Sang Penciptanya, dan jiwa dikatakan bergerak menuju berbagai keutamaan bila ia menerima perintah dari akal. Jiwa itu menjadi mediator untuk bergerak dan cenderung kepada tujuan Tuhannya, sehingga apa yang dilakukan (pekerjaan fisik) menjadi suatu pekerjaan Allah. Karena itu, jiwa dijadikan dalam bentuk jauhar yang memadukan dua sisi, satu sisi mirip akal dan satu sisi mirip fisik. Bisa jadi ia ke sisi bawah, maka ia menjadi nilai-nilai kerendahan. Dan bisa jadi ia ke sisi atas (tinggi), maka ia menjadi nilai-nilai keutamaan. Demikianlah jiwa akan menggantung di antara dua sisi tersebut, di mana fisik akan berinteraksi dengan jiwa, jiwa akan berinteraksi dengan akal, sementara akal dengan Sang Pencipta. Ini semua terjadi secara sistematis, sebagaimana alam yang juga terjadi secara sistematis dan saling berinteraksi satu sama lain sehingga Allah tidak menanganinya secara langsung, tapi semua berada dalam Ilmu-Nya sebab dia bukanlah jisim (fisik) yang berdimensi, bukan pula ‘aradh atau jauhar. Itu sebabnya sering dikatakan bahwa ketika muncul kecenderungan untuk berbuat ketaatan, maka itu bersumber dari Allah SWT.
Yang paling sempurna akalnya adalah yang paling besar rasa takut kepada Allah SWT dan yang paling memperhatikan apa yang diperintah dan dilarang-Nya, meski paling sedikit tatawwu’-nya. (Al-Hadits)
Akal yang dimaksud pada sistematika jasad-jiwa-‘aql-Khaliq adalah ciptaan pertama Allah SWT.
Yang pertama diciptakan Allah SWT adalah akal. Lalu Ia perintahkan kepadanya, ‘Datanglah!’ maka ia datang. Lalu Ia perintahkan lagi kepadanya, ‘Pergilah!’ maka ia pun pergi. Kemudian Allah SWT berfirman, ‘Demi Keperkasaan-Ku dan Keagungan-Ku, tak ada sesuatu yang telah Kuciptakan lebih mulia di sisi-Ku daripadamu. Denganmu Aku mengambil, dan denganmu Aku memberi. Denganmu Aku memberikan pahala, dan denganmu Aku menjatuhkan hukuman. (Al-Hadits)
Meski akal adalah ciptaan Allah SWT, tapi ia bukan jism, bukan aradh dan bukan pulajauhar. Karena itu Imam Al-Ghazali ra menyebutkan bahwa pengetahuan tentang akal ini termasuk dalam ilmu mukasyafah.

Hubungan Jiwa dengan Ruh
Pemahaman tentang Ruh berada di tataran yang kontroversial yang muncul karena kesalahpahaman terhadap apa yang dimaksud di QS. Al-Israa’ [17]: 85 yaitu kalimatRuh min Amri Rabbi. Kata “Ruh” di sini umumnya dipahami dengan ruh hewani dan kemudian melekatkan istilah nyawa kepadanya untuk menunjukkan bahwa kematian akan terjadi bila nyawa manusia lepas dari tubuhnya. Tetapi yang dimaksud ruh di Al-Israa’ [17]: 85 itu bukanlah ruh hewani atau nyawa itu, melainkan apa yang Imam Al-Ghazali ra istilahkan dengan Ruh Amr. Jiwa (an-nafs) sendiri memiliki relasi yang erat apakah dengan Ruh Amr maupun ruh hewani di mana relasinya saling unik. Karena itu pembahasan hubungan jiwa dengan ruh ini juga harus dipilah menjadi dua bagian.

1. Hubungan Jiwa dengan Ruh Hewani
Ruh hewani ini disebut juga dengan Nafakh Ruh karena ruh inilah yang ditiupkan (nafakh) ke dalam jasmani janin pada usia kandungan 120 hari.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan di dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah mereka kepada-Nya dengan bersujud.(Al-Hijr [15]: 29)
Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari Ruh-Nya, dan Dia menjadikan kalian (memiliki) pendengaran, bashiirah, dan fu’aad, tapi sedikit di antara kalian yang bersyukur. (As-Sajdah [32]: 9)
Ruh hewani ini adalah fisik yang lembut yang bersumber dari rongga hati jasmani, yang dengan perantaraan otot-otot dan urat-urat yang bermacam-macam, ia tersebar ke seluruh bagian-bagian tubuh. Ia adalah wujud fisik yang pergerakannya berada dalam kendali jiwa, di mana akibat pergerakan dan sirkulasinya di seluruh bagian tubuh maka muncullah aradh (kekuatan) jiwa seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan gerakan. Ia ibarat lampu menyala yang terletak dalam kaca qalbdimana lampu itu diedarkan menyusuri ‘lorong-lorong’ otot dan urat syaraf sehingga cahayanya menerpa dinding-dinding lorong tersebut. Sedangkan yang memiliki kehendak dan pengetahuan ke mana lampu itu harus diedarkan adalah jiwa (an-nafs). Adapun ketika dinding terterpa cahaya lampu, dikatakan muncullah aradh (kekuatan) jiwa di mana bila dinding tersebut berada di lorong-lorong otot dan urat syaraf mata, maka aradh tersebut disebut dengan penglihatan. Begitu pula dengan penginderaan lainnya dan gerakan adalah cahaya lampu tersebut ketika menerpa dinding.
Kemudian ibarat lampu menyala tadi, maka ruh hewani ini juga memiliki panasnya, itulah yang dikenal dengan syahwat, sedang emosi (ghadab) adalah asapnya di mana asap itu pada dasarnya muncul karena ada panas yang tidak proporsional. Asap itulah yang nantinya akan mengotori kaca qalb dan memekatkan qalb dengan abunya. Akibatnya cahaya yang terpancar dari pelita kian lama kian redup.
Imam Al-Ghazali ra mengatakan bahwa tidak ada firman Allah SWT dan taklif dari pengembang syari’at yang ditujukan kepada ruh ini. Sementara kita pun tahu bahwa kelak di yaumil hisab, segala aktivitas kita, termasuk penginderaan dan gerakan, akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Lantas kepada siapa Allah SWT memintai itu? Jawabannya adalah kepada jiwa (an-nafs), sebagai bagian diri kita yang memiliki pengetahuan dan kehendak karena jiwa (an-nafs) yang menggerakkan pelita ruh, sehingga timbullah berbagai aktivitas dalam diri.

tabel fungsi tingkatan nafs

2. Hubungan Jiwa dengan Ruh Amr
Untuk memahami keberadaan Ruh Amr, kita harus mengerti bahwa dia berasal dari alam Amr, yaitu alam di mana Amr-Amr (kehendak-kehendak) Allah SWT lahir dan berkembang. Dan ini adalah suatu alam tersendiri, apapun—termasuk kehendak (Amr)—ketika dilekatkan pada martabat ketuhanan, maka iapun memiliki alamnya sendiri. Bila pada martabat kemanusiaan kehadiran kehendak hanya berwujud ‘niat’, maka tidak demikian dengan Allah SWT. Di sisi Allah SWT, Amr-Nya itu hidup dan mewujud meski tidak dalam bentuk-bentuk yang kasat mata.
Karena itu Ruh Amr berbeda dengan ruh hewani (nafakh ruh, nyawa) karena Ruh Amrbukanlah sesuatu wujud fisik sebagaimana ruh hewani. Dia pun bukan merupakanaradh sebab urusan (Amr) Allah SWT mustahil berupa jasad maupun aradhRuh Amrini bersifat lathifah ‘alimah, yaitu sesuatu yang lembut (tidak berjasad), memiliki ilmu dan memberikan kepahaman pada diri (nafs) manusia. Karena itu bila dikaitkan dengan jiwa (an-nafs), kehadiran Ruh Amr ini adalah dalam posisi guru, pemberi pemahaman dan yang mentransfer pengetahuan dari sisi Allah SWT sebab jiwa (an-nafs) hanya mampu mengetahui kekuatan yang ada dalam dirinya saja.
Jiwa (an-nafs) sendiri sejak awal memang sudah memiliki potensi pengetahuan, yaitu tentang dirinya sendiri. Karena itu dikenalah aksioma Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu dimana frasa ‘arafa nafsahu menunjukkan proses sang jiwa (an-nafs) ketika berusaha memahami pengetahuan yang dikandung dalam dirinya dan frasa ‘arafa Robbahu menunjukkan proses ketika datang pengetahuan dari Allah SWT yang melegalkan (membenarkan maupun menyalahkan) pengetahuan manusia tentang jiwanya (an-nafs). Sementara kata faqad tidak mesti bermakna serial secara waktu, tapi serial secara urutan sebab akibat. Dalam hal ini, Man ‘arafa nafsahu adalah sebab dari ‘arafa Rabbahu. Allah SWT berkepentingan terhadap kebenaran proses pengenalan manusia terhadap dirinya, karena manusia diciptakan sesuai dengan citra Dia SWT. Dan sebagai makhluq yang paling ‘mirip’ dengan Allah SWT, maka diri manusia membawa pengetahuan tentang Allah SWT, dalam derajat akurasi dan kebenaran tertinggi di seluruh semesta alam.
Bila dalam proses ‘arafa nafsahu subyeknya adalah jiwa (an-nafs), maka dalam proses ‘arafa Rabbahu subyeknya adalah Ruh AmrRuh Amr ini baru akan hadir bila si jiwa (an-nafs) telah sempurna berproses yaitu telah sampai ke derajat nafs al-muthmainnah . Hadirnya Ruh Amr yang membawa pengetahuan dari sisi-Nya, membuat nafs al-muthmainnah disebut sebagai nafs nathiqah dimana nathiqmenunjukkan kemampuan melahirkan pengetahuan ke dalam bentuk-bentuk perbuatan.
Karena itu kehadiran Ruh Amr terkait dengan amal shalih. Hadirnya Ruh Amrmembuat sang jiwa (an-nafs) akan mampu menggunakan kekuatannya (aradh) maupun jasmani untuk menjalankan amal shalihnya, yaitu sesuai dengan kehendak Allah SWT. Ruh Amr ibarat sosok Rasul dalam suatu kaum dimana kaum itu adalah perumpamaan diri Al-Mu’miniin.
Dan ketahuilah bahwa di dalam diri kalian terdapat utusan Allah. Seandainya dia taat kepadamu di dalam banyak hal dari sebuah al-Amr niscaya engkau mendapatkan kesusahan namun Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam qalb kalian dan menjadikan kalian benci kepada kekufuran serta kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang diberi bimbingan. (Al-Hujuraat [49]: 7)
Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang al-mukmin ketika Dia mengutus seorang rasul di dalam nafs-nafs mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan-Nya, dan mengajarkan mereka Al-Kitaab dan Al-Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. (Ali ‘Imran [3]: 164)
“Katakanlah: Ruh Al-Quds telah menurunkannya dari Rabbmu dengan penyertaan al-haqq untuk meneguhkan orang-orang yang beriman, dan sebagai petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl [16]: 102)


Relevansi pemahaman struktur insan dengan struktur keberagamaan
Imam Al-Ghazali ra mengatakan bahwa tidak banyak yang mendalami masalah struktur insan ini, posisi nafs-qalb-‘aql-ruh, perbedaan maknanya, batas-batasnya dan apa-apa sebenarnya yang dilabeli oleh nama-nama tersebut. Akibatnya, banyak kesalahan-kesalahan diperbuat orang, termasuk para ulama, disebabkan oleh ketidakmengertian akan arti terminologi-terminologi tersebut. Khususnya terhadap pemahaman makna ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan terminologi-terminologi tersebut.
Pemahaman tentang makna istilah-istilah tersebut amat berpengaruh dalam membentuk struktur keberagamaan seseorang, karena manusia adalah makhluk yang berproses dan berkembang, baik lahir maupun batin dimana proses tersebut ada polanya. Pola proses inilah yang amat penting dipahami seseorang. Dengan memahami pola tersebut seorang muslim bisa mengukur posisi perjalanannya menuju Allah SWT dan membangun keberagamaannya dengan struktur benar sesuai kehendak Allah SWT. Proses ini dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah ‘uruj(mi’raj). Proses ini bisa dipahami sebagai proses berpindahnya atau naiknya kesadaran manusia, dari satu kesadaran ke kesadaran lain sehingga faktor kendali kehidupan seseorang juga senantiasa berpindah sejalan dengan ‘uruj.
tingkatan \'uruj
Imam Al-Ghazali ra juga memperkenalkan mekanisme ‘uruj dalam bentuk yang lebih singkat,yaitu:
\'uruj (singkat)
Pemahaman tentang struktur insan selain ditujukan untuk mengidentifikasi keberadaan entitas-entitas tersebut, utamanya adalah demi memahami mekanisme ‘uruj ini. Bahwa keberagamaan seseorang dibangun dengan pola tumbuh dan hadirnya nafs-qalb-‘aql-ruh secara nyata di mana hal itu semua diawali dari kesadaran bahwa semua entitas tersebut eksis dan nyata.
\'uruj, lebih jelas
Gambar 3.Mekanisme ‘uruj dalam perspektif Imam Al-Ghazali

Manusia awalnya belajar hanya dengan jasadnya yaitu dengan menggunakan perangkat-perangkat jasadiah saja, dan menjadikan alam-alam jasmaniah sebagai bahan pembelajaran dan sumber informasi, seperti otak, nalar (rasio) dan bagian-bagian lain dari consciousness (alam sadar) manusia di mana itu semua hanyalah ‘aradh dari jiwa. Kemudian dengan taubat, manusia berkesempatan untuk menghidupkan nafsnya (jiwa jauhar) dan menjadikannya sebagai subyek belajar pada fase nafs. Di sini bahan pembelajaran dan sumber informasinya adalah alam malakut, dan begitu seterusnya proses uruj ini mengalir hingga totalitas kepribadian kita bertemu dengan Ruh yang merupakan utusan Allah SWT dimana yang dimaksud dengan Ruh tersebut adalah Ruh Amr atau disebut juga dengan Ruh Al-Quds.
Imam Al-Ghazali ra mengatakan bahwa hakikat seseorang ditentukan dari aspek tertinggi dalam dirinya, karena itu ‘uruj juga menunjukkan aspek tertinggi yang eksis dalam diri seseorang pada suatu saat. Awalnya manusia hanyalah seonggok daging dengan kekuatan berpikir, karena dalam kepribadian manusia hanya eksis jasadnya saja. Tapi bila nafs seseorang telah hidup, maka sebutan nafs tersebut juga melekat dalam totalitas kepribadiannya. Begitu juga bila qalb-nya, dan kemudian ‘aql-nya, telah kembali.
Dalam ‘uruj ini ada yang sifatnya tumbuh dari dalam dirinya, dan ada yang berupa rahmat dari sisi Allah SWT yang diterima kelak. Dari Jasad sampai dengan Akal (‘Aql), itu semua merupakan potensi yang ada dalam diri manusia sejak lahir tapi potensi tersebut belum berarti apa-apa sampai benar-benar berwujud dan eksis. Manusia harus berjihad untuk mewujudkannya dan kemudian bila berhasil dalam jihad-nya ini, maka Allah SWT akan menurunkan Rahmat-Nya, yaitu Ruh Amr atau Ruh Al-Qudsyang selanjutnya akan menjadi pembimbing dan rasul bagi diri manusia. Pada titik inilah manusia memasuki derajat ihsan, yaitu “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu” (HR. Bukhari).
Demikianlah relevansi pemahaman struktur insan dengan terbangunnya struktur keberagamaan seorang manusia dengan benar. Sesuai dengan firman Allah di QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56, manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Dan Rasulullah saw menjelaskan bahwa ibadah yang semestinya adalah ketika yang disembah itu tersaksikan atau menyaksikan. Dan itu terjadi kala Ruh Amr (Ruh Al-Quds) telah hadir dan bersatu dengan kepribadian seorang manusia.
Copyright © 2001 PICTS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar